Amazon

Niat hati tidak ingin melanjutkan, tapi kalo sahabat sendiri yang minta diceritain mana tega daku menolak… 😂 Kisah sebelumnya bisa dibaca disini.

Teman chatting gue yang gue sebut si mas ini berasal dari negara maju yang tertib aturan, yang gue rasa warga negaranya rata-rata menjunjung tinggi asas ‘lakukanlah sesuatu untuk masyarakat, jangan sampai kita menyusahkan orang lain’ dan ‘aturan itu ada untuk ditaati, aturan sudah dibuat dengan sebegitu seksama, hargailah aturan yang ada.’ Tentunya sudah bisa ditebak bagaimana reaksinya kembali di negara yang meskipun kata orang luar negeri masyarakatnya ramah dan baik hati suka menolong dan tidak sombong, tapi begitu di balik setir… beuh, jadi super barbar.

Hotel yang kami tuju cuma lima menit jalan kaki dari mall, dan gue akhirnya sebagai guide yang baik hati, gue jalan bareng si mas keluar dari mall. Di depan mall, belasan kendaraan baik sepeda, becak, motor, tossa, mobil, sampai bus swasta dan bus negeri (baca: bus rapid trans punya pemkot) yang keduanya nyaris nggak ada bedanya, sama-sama ugal-ugalan, berlalu-lalang setiap detiknya. Terus. Tidak. Ada. Jembatan. Penyeberangan. Juga. Tidak. Ada. Zebra. Cross.

Terus gue ajakin si mas menyeberang jalan. Mukanya langsung agak berubah ekspresinya.

‘Eh? Sekarang? Di sini?’

‘Iya. Ayuk, jalan!’

Sambil kami berusaha menyeberang, beberapa motor seenak jidat melenggang dengan tidak pata-pata alias ngebut, beberapa becak lewat dengan pelan-pelan. Dan sambil agak terbata-bata karena harus lari-lari kecil menyeberangi jalan yang besar itu (muat 6 mobil berjejer), si mas tertawa terkekeh-kekeh.

‘Aku udah lupa, jalanan di Indonesia bahaya… Nyeberang jalan aja kaya kalo mau perang.’

‘Tiap hari nih begini… tiap hari aku ngadepin yang kaya begini…’ jawab gue, agak malu sebenernya.

Begitu sampai ke seberang, sambil betulin nafas kita jalan santai (menurut si mas) (jalan cepat menurut gue) sambil ngobrol. Obrolannya random aja; gimana kemaren di Manila… kemana aja disana… tadi flight nya delay nggak… dan semacamnya. Tapi belum reda culture shock nya dimana jalanan di sini berasa belantara Amazon dan taman bunga di negaranya, si mas dibuat terkesima lagi dengan pedestrian alias trotoar di sini yang bukan cuma naik turun pavingnya nggak rata, tiap pintu masuk ato keluar bangunan, pasti abis pedestriannya… sudah begitu diambil alih buat jualan pula 😂

Terus bapak-bapak ojek (yang bukan gojek) di pinggir jalan, yang berhenti di tempat yang tidak semestinya, yang memanggil merdu, menawarkan jasanya.

Terus ada lagi bapak-bapak becak yang biasanya mangkal di stasiun memainkan belnya tek-tek-tek-tek… mungkin dikiranya kita mau ke stasiun gara-gara lihat si mas bawa-bawa tas.

Terus masih ada lagi supir bus yang memencet klaksonnya dan kernet yang meneriakkan rute mereka, yang jalannya (as I said) ugal-ugalan, dan yang terus meninggalkan kumpulan asap hitam yang bau mesin tua.

Untuk sampai di hotel tujuan, gue dan si mas harus meneyeberang jalan sekali lagi. Kali ini jalannya lebih kecil, separuh jalan tadi. Tapi sayangnya dengan kepadatan yang sama dengan jalan tadi. Maka sekali lagi gue kasih kode waktu kendaraannya agak sepi. Dan sekali lagi si mas terkekeh-kekeh sambil menyeberang.

‘Memang ya… ekstrim sekali…..’ katanya. Mungkin dikiranya survival game kaya Benteng Takeshi 😂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s